SERANG – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Ameriza M Musa memproyeksikan ekonomi Banten tumbuh 5,70 persen pada tahun 2026.
“Pertumbuhan positif akan terus berlanjut sampai dengan tahun 2026 dengan kisaran 4,90 persen sampai 5,70 persen,” kata Ameriza kepada wartawan di acara Forum Ekonomi Banten 2025 di Serang, Selasa (9/12/2025).
Optimisme itu, kata Ameriza, melihat perkembangan ekonomi Banten pada tahun 2025 dengan mencatatkan kinerja yang menggembirakan.
Pertumbuhan ekonomi Banten terus mencatatkan peningkatan, pada triwulan III 2025 tercatat sebesar 5,29% year on year (YoY) dan lebih tinggi dari capaian nasional sebesar 5,04% (YoY).
“Capaian ini juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi Banten yang berdaya tahan hingga mampu lebih tinggi dari capaian pertumbuhan regional Jawa yang tercatat sebesar 5,17 persen year on year,” ujar Ameriza.
Dengan capaian ini, lanjut Ameriza, Banten masih menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa, berkontribusi 6,93 persen terhadap perekonomian Jawa dan 3,87 persen terhadap nasional.
“Kinerja positif perekonomian daerah tentunya tidak terlepas dari upaya sinergi dan kolaborasi berbagai pihak,” ujar dia.
Di tengah positifnya kinerja pertumbuhan ekonomi Banten, kata Ameriza, kapasitas ekonomi Banten masih belum optimal, tercermin dari pangsa ekonomi Banten terhadap nasional yang masih rendah.
Berdasarkan data BPS, tercatat distribusi persentase PDRB ADHB Banten pada 2024 terhadap PDB nasional sebesar 3,97%, atau terendah kedua di pulau Jawa setelah DIY sebesar 0,88%.
Rendahnya kontribusi PDRB Banten terhadap nasional tersebut salah satunya disebabkan oleh tren pelemahan pangsa PDRB sektor utama.
Adapun pangsanya adalah Industri Manufaktur yang disebabkan pelemahan permintaan ekspor dan domestik Industri serta adanya gangguan supply chain industri.
“Sehingga kontribusi sektor Manufaktur terus mengalami penurunan sejak 2010 sebelum stagnan pada 2024 dan 2025,” ungkap dia. dia.
Menurut Ameriza, kebijakan ekonomi perlu terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian.
Bank Indonesia, kata Ameriza, terus memperkuat bauran kebijakan moneter, mikroprudensial, dan sistem pembayaran.
“Itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga, pelonggaran likuiditas, peningkatan insentif mikroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan,” tandas Ameriza. ***

















