SERANG – Kehadiran Bus Trans Banten koridor 3 diprotes oleh supir angkutan kota yang tergabung dalam Forum Komunitas Angkot Pabuaran- Ciomas.
Mereka menuntut agar pemerintah provinsi Banten mengevaluasi pengoperasian bus Trans Banten karena pendapatan berkurang drastis.
“Trans Banten hari ini menghadirkan berbagai permasalahan yang terjadi di supir-supir angkot. Banten adil merata hanya mimpi belaka, supir angkot sengsara,” kata salah satu supir, Gery Wijaya kepada wartawan di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, Rabu (15/10/2025).
Gery menyampaikan, pendapatan supir angkut menurun dengan hadirnya Bus Trans Banten sejak 5 Oktober 2025 lalu.
Sebelum ada Bus Trans Banten, supir angkot dalam sehari pendapatannya mencapai Rp 350.000.
Namun, pendapatan menurun menjadi Rp60.000 sampai Rp150.000 per hari karena masyarakat memilih Bus Trans Banten karena gratis.
Apalagi, kata Gery, pemerintah akan menambah armada bus setelah melihat antusias masyarakat yang memanfaatkan moda transportasi bus tersebut.
Sehingga, nasib dan pendapatan mereka akan semakin terpuruk.
“Kami mendukung peningkatan transportasi publik di Banten, tetapi kami juga ingin agar para sopir angkot tidak tersisih,” tandas dia.
Menanggapi permintaan itu, Kepala Dishub Tri Nurtopo mengatakan, kehadiran Trans Banten dilakukan berdasarkan hasil kajian kebutuhan transportasi masyarakat.
Terutama di wilayah yang belum dilayani trayek angkutan reguler.
“Rute Pakupatan–Untirta Sindangsari ini kami uji coba karena dari Sindangheula ke Palima tidak ada angkutan yang beroperasi,” kata Tri.
Tri mengaku akan melakukan evaluasi setelah adanya masukan dari supir angkot jurusan Serang-Padarincang.
Evaluasi dilakukan agar Trans Banten tetap berjalan, tapi supir angkot tidak berdampak pada ekonomi para pengemudi angkot.
“lami ingin menghadirkan sistem transportasi yang adil, merata, dan berpihak kepada masyarakat tanpa meniadakan peran pengemudi angkot yang sudah lama melayani warga,” ujar Tri.




















