SERANG- Provinsi Banten peringkat kedua daerah dengan pengangguran tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, daerah berjuluk tanah jawara itu mencatatkan 414.750 pengangguran.
Angka itu berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional (Sakernas) BPS pada Agustus 2024.
Lalu apa program dua calon Gubernur dan wakil Gubernur Banten untuk mengentaskan pengangguran?
Pasangan calon nomor urut 1, Airin Rachmi Diany-Ade Sumardi punya perhatian khusus terhadap persoalan ketenegakeraan.
Pasangan ini berkomitmen melepaskan status Provinsi Banten sebagai daerah dengan pengangguran tertinggi di Indonesia.
“Salah satu tantangan pembangunan Banten adalah pengentasan angka pengangguran. Kami sudah menganalisa masalah dan membuat rencana program untuk bidang ketenangakerjaan ini,” kata dikutip dari keterangan tertulis yang didapat buanabanten.id.
Sejumlah program untuk mengatasi pengangguran telah disiapkan antara lain, revitalitasi dan peningkatan jumlah Balai Latihan Kerja (BLK), training center yang bekerja sama dengan dunia industri, dan sekolah vokasi.
“Kami akan bangun BLK sesuai potensi daerah. Industri kami akan minta bangun training center. Secara khusus kami siapkan sekolah vokasi untuk menciptakan lulusan siap kerja,” ujar Airin.
Selain itu, Airin-Ade juga punya program Muda Berdaya, Generasi Berkompeten Banten (Gen Banten), dan Kreasi melalui UMKM.
“Paling utama juga, kita bangkitkan UMKM. Kita dorong semua pelaku UMKM untuk bisa naik kelas. Kita damping mulai dari permodalan, kualitas produk, hingga pemasaran,” ujar Airin.
Menurut mantan Wali Kota Tangsel ini ada dua sisi dalam pengentasan pengangguran, yakni pembukaan lapangan pekerjaan dan menciptakan generasi yang siap mengembangkan usaha atau berjiwa entrepreneur.
“Melalui program Muda Berdaya, kami akan memberikan pelatihan gratis dan supporting system bagi generasi muda dalam mengembangkan usaha. Kami akan membuka peluang dan wadah bagi para pemuda di dunia ekonomi kreatif,” ujar Airin.
Selain itu, Airin juga punya ‘Kreasi’ yang mendorong program inkubasi bisnis dengan mengintegrasikan industri besar dan sedang (IBS) dengan industri mikro dan kecil (IMK). Integrasi ini dilakukan untuk mengembangkan produk-produk lokal.
“Kemudian kita perlu mendorong skema pembiayaan inovatif dan bantuan modal bagi startup dan UMKM di Banten,” ujarnya.
Kemudian program Generasi Banten Berkompeten (Gen Banten) dengan mengoptimalkan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan Mobile Training Unit (MTU) sebagai sarana pelatihan kerja.
“Selain itu, kami akan mengembangkan sekolah vokasi berbasis kebutuhan kerja. Ke depan, sekolah kejuruan harus hadir sesuai dengan potensi daerah. Bekerja sama dengan sektor industri,” ujarnya.
Sedangkan pasangan calon nomor urut 2 Andra Soni-Achmad Dimyati Natakusumah juga telah menyiapkan program untuk mengatasi pengangguran di Provinsi paling barat pulau jawa tersebut.
Ada tiga program yakni program Plat-A atau pelatihan dan pendidikan vokasional, program tunas lokal atau tenaga kerja unggulan untuk akses dan sinergi, dan program Zona serlok atau zonasi serapan tenaga kerja lokal.
Dikatakan Andra, pengangguran yang tinggi itu juga berkorelasi atau berdampak pada angka kemiskinan yang juga tinggi.
“Saya akan berjuang menciptakan lapangan pekerjaan, karena tugas pemerintah melayani,” kata Andra.
Ada pun upaya yang akan dilakukan Andra, salah satunya melakukan komunikasi dengan pelaku usaha agar dalam perekrutan tenaga kerja adil.
Sehingga, kata Andra, warga Banten terutama yang berada di wilayah Industri memiliki kesempatan yang sama mendapatkan pekerjaan.
Kemudian, mantan Ketua DPRD Banten ini mengaku akan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap bekerja dimulai dari SMK hingga pelatihan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Itu yang akan saya lakukan jika saya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Banten,” ujar dia.
Selain itu, Andra-Dimyati akan menghadirkan Balai Latihan Kerja (BLK) di setiap kantor-kantor desa atau kelurahan, dengan materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja di masing – masing wilayah.
“Dengan dilakukan di kantor-kantor desa selain bisa efektif dan efisien di berbagai hal, dan bisa tepat sasaran,” kata Andra.
Dengan program Zona Serlok, diharapkan pula dapat menekan angka pengangguran di Provinsi Banten.


















